Enjoy cooking
Browse through over
650,000 tasty recipes.
Home » » Post Hackathon Sufriadi Blog 2

Post Hackathon Sufriadi Blog 2

Written By Unknown on Jumat, 27 Agustus 2021 | 19.59

Artikel Sufriadi Safar-Hackathon
Blog II : 

Gula Semut Aren

Masyarakat sulawesi tenggara secara umum sudah mengenal produk gula aren sejak lama. Karena sebagian besar masyarakat yang berprofesi sebagai petani kakao menjadikan kegiatan menyadap aren (arenga pinnata sp) sebagai pekerjaaan sampingan di kala musim panen kakao telah usai. Bahkan dewasa ini telah beralih menjadi pekerjaan utama sebagian masyarakat di beberapa daerah, salah satunya adalah Kabupaten Kolaka. Hal ini terjadi karena produktivitas tanaman kakao yang mulai menurun dan bahkan cenderung di ganti dengan tanaman lain yang memiliki produktivitas dan harga jual yang tinggi.
Produk gula aren atau gula merah saat ini yang banyak beredar di pasaran adalah produk gula cetak yang menggunakan cetakan batok kelapa atau cetakan dari bahan kayu khusus (kayu lica-lica) dan dikemas dengan menggunakan dedaunan (daun jarak hutan atau daun pisang) sehingga tampilannya masih sangat sederhana, tradisional dan kurang menarik. Sehingga menimbulkan cukup banyak kendala bagi para pengrajin gula aren. 
Permasalahan yang dihadapi pengrajin gula aren cukup kompleks, dimulai dengan penyimpanan yang sulit ; dengan bentuk produk yang tidak simetris tentu membutuhkan tempat penyimpanan yang luas. Daya tahan produk ; ini juga menjadi kendala yang serius, dengan pengemasan menggunakan bahan-bahan yang rapuh dan mudah rusak akan menyebabkan lama penyimpanan menjadi cukup singkat. Promosi produk juga menjadi sulit dengan melihat bentuk dan tampilan produk yang kurang menarik. Bahkan pemasaran produk itu sendiri kemudian menjadi sedikit sulit, terbatas kepada permintaan dari pengepul saja.
Berdasarkan pertimbangan di atas, bersama dengan ALPEN (aliansi perempuan) Sultra dan kelompok tani di Kabupaten Kolaka mencoba membuat produk inovasi baru dari gula aren. Setelah melakukan riset dan membandingkan dengan beberapa produk sejenis di pasaran yang sudah cukup inovatif, kemudian dicobalah untuk membuat gula aren dengan bentuk butiran atau granul. Kemudian meminjam nama yang sering disematkan oleh orang-orang bahwa bentuknya yang merah kemerahan dan seperti semut yang beriringan, maka kami menyebutnya gula semut aren. Kami tambahkan penegasan di bagian akhir bahwa memang itu produk dari nira aren murni.
Gula semut aren pembuatannya cukup mudah, baik secara tradisional maupun dengan alat-alat modern bisa dilakukan. Tetapi untuk dampingan kami baru melaksanakan pelatihan secara tradisional saja. Caranya cukup mudah, ketika air nira telah siap dicetak, pengrajin kemudian melakukan pendinginan dengan cara diaduk terus-menerus hingga cairan gula mengental dan mengering secara perlahan-lahan. Setelah gula mulai mengeras menjadi butiran-butiran kasar barulah di haluskan dengan alat sederhana yang terbuat dari batok kelapa. Setelah itu kemudian di ayak menggunakan saringan yang telah di buat khusus. Setelah itu gula kemudian diangin-anginkan untuk menurangi kadar air yang masih terdapat dalam gula tersebut sekaligus untuk menjadikannya lebih awet disimpan lama.
Proses pengeringan ini sebenarnya akan sangat penting, karena akan berpengaruh pada daya tahan gula. menurut salah satu pengusaha gula semut asal Kolaka Timur mengatakan bahwa dengan menggunakan oven, gula mereka bahkan bisa bertahan hingga 2 tahun jika disimpan dengan baik. Saat ini menjadi permasalahan serius bagi pengrajin dampingan kami sebab mereka masih menggunakan cara tradisional untuk mengurangi kadar air gula. Sehingga masih kurang efektif dan efisien. Sehingga saat ini produksi gula semut aren masyarakat kolaka masih sangat terbatas. Tetapi terlepas dari hal ini prospek gula masih cukup menjanjikan
Dengan inovasi ini, pengemasan tentu lebih mudah. Karena bentuknya yang hampir mirip dengan gula pasir pada umumnya, sehingga dapat menggunakan kemasan plastik dengan berbagai macam bentuk dan ukuran. Sedangkan untuk konsumen juga tentu lebih dimudahkan, karena lebih praktis serta dapat dengan mudah digunakan. Lain halnya ketika masih berbentuk gula batok, sedikit repot dan membutuhkan waktu yang lebih lama, misalnya ingin dijadikan bahan taburan kue, harus diparut terlebih dahulu.
Hal terakhir yang sangat penting juga tentu bagi pengrajin adalah harga jual, dengan pengemasan yang baik dan produk yang menarik tentu mereka mengharapkan harga yang lebih adil bagi mereka, sebab proses pembuatan gula semut aren tidaklah semudah gula tebu atau bahkan gula merah konvensional. Membutuhkan kesabaran, keuletan dan disiplin agar dapat sampai ketangan para konsumen. 

Dokumentasi Kegiatan : 

 

SHARE

About Unknown

0 komentar :

Posting Komentar